Selasa, 14 Februari 2012

Gedung Serbaguna Rp 1,7 M Dibangun



Batusangkar, Padek—Masyarakat Nagari Atar Kecamatan Padangganting akan membangun gedung serba guna senilai Rp1,7 miliar. Saat ini pembangunannya sudah mencapai 15 persen dan sudah menghabiskan dana Rp130 juta yang bersumber dari dana alokasi pembangunan nagari (DAPN) Rp 101 juta dan sumbangan masyarakat Rp 29 juta.

Untuk mempercepat pembangunan gedung serba guna itu, wali nagari Atar bersama panitia pembangunan gedung serba guna menggelar doa bersama yang diikuti 400 orang warga masyarakat Nagari Atar dan perantau dari Bandung, Bogor dan Jakarta. Doa bersama digelar di pelataran pembangunan gedung serba guna tersebut yang sudah mulai dibangun.

Hadir dalam acara itu tiga anggota DPRD Tanahdatar Irman, Abdul Waziz Datuk Indo Mangkuto dan Yong Liza serta camat Padangganting. Wali Nagari Atar Amir Syarifudin menyebutkan doa istigazah ini sebagai buah komitmen bersama antara masyarakat di kampung dengan perantauan.

Sementara itu, perantau asal Atar dari Jakarta Hendra Railis menyampaikan aspresiasi yang sangat besar dan sangat mendukung keinginan masyarakat dikampung untuk membangun gedung serbaguna dan jika gedung serbaguna ini siap merupakan gedung termegah di Tanahdatar. Gedung yang dibangun itu cukup besar dengan ukuran 40 x 30 meter. Dalam gedung serba guna itu bisa dipergunakan sebagai kantor wali nagari, kantor KAN juga untuk sarana olahraga dan kegiatan pertemuan bagi masyarakat Nagari Atar ( jn)
Baca Selengkapnya..

Senin, 13 Februari 2012

Menyusuri Pelosok Nagari Mencari Panutan


Di kampung-kampung, upacara adat merupakan hal penting dalam menjaga tradisi. Begitupula di Minangkabau, upacara-upacara adat telah melahirkan banyak maestro seni tradisi.
Hanya saja, jarang seniman kontemporer yang mau menyusuri pelosok nagari itu dan belajar pada seniman tradisi sebagai panutan dalam berkarya.

Seni tradisi di kampung-kampung atau di nagari-nagari dalam daerah Minangkabau hidup karena adanya upacara-upacara yang mendukung kehidupannya. Akan tetapi, kemajuan zaman yang mengarah kepada kehidupan kapitalisme telah menyebabkan upacara-upacara semakin dianggap tidak perlu dan mubazir. Namun di sisi lain, masyarakat dan pemerintah tetap saja menginginkan produk-produk budaya dalam bentuk kesenian tradisi itu tumbuh dan berkembang, sebab seni tradisi memiliki potensi sebagai sebuah identitas.

“Oleh karena itu, kalau mau memelihara seni tradisi, maka yang harus dilakukan adalah membuat upacara-upacara yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat pendukungnya,” kata koreografer, Indra Utama yang sekarang sedang menempuh pendidikan doktoral bidang performance studies di Pusat Kebudayaan Universiti Malaya, di Malaysia. Kami bertemu dan membincangkan ini di situs jejaring sosial Facebook, Rabu (8/2) lalu.

Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang ini mencontohkan nagari yang masih menjaga dan memelihara upacara-upacara tersebut. Yaitu, Nagari Andaleh Baruh Bukik, Sungayang, Tanahdatar.
Di nagari itu, setiap hari raya dilakukan upacara anak nagari selama 7 hari. Bertempat di halaman masjid yang sekaligus berdekatan dengan gedung serbaguna atau gedung pemuda. Pada saat itu, anak nagari mempertunjukkan kesenian mereka dan ditonton oleh masyarakat nagari yang pulang dari rantau serta yang menetap di kampuang. Kemudian, terjadi interaksi antara anak muda-muda tersebut.

“Nampaknya, sekaligus untuk cari jodoh mah...hehehe..,” katanya sambil tertawa. Menurutnya, upacara-upacara yang tidak relevan lagi dengan keadaan zaman tentu dengan sendirinya akan hilang dan tidak diminati. Tetapi upacara tetap harus ada untuk mendukung keberadaan aktivitas seni tradisi.

Harus ada panutan
Dalam sebuah tulisannya, Indra Utama, pernah mengungkapkan, banyak koreografer muda di Sumbar yang berkarya tanpa panutan. Bahwa, karya-karya kreatif para koreografer muda ini cenderung memperlihatkan sesuatu yang berbeda atau ingin dianggap berbeda dari koreografer terdahulu. Perbedaan yang menjurus ke bentuk fisik melalui adaptasi teknik modern itu tidak diikuti dengan penguasaan teknik dan kaidah yang benar.

Akibatnya karya yang lahir pun tidak terarah. Mereka seperti sedang berada pada dua dunia, di mana masing-masingnya tidak total dilakoni. Satu sisi, dunia tradisi seperti hendak ditinggalkan karena dianggap tidak sesuai lagi dengan zamannya, tetapi di sisi lain, dunia moderen yang ingin digeluti, belum pula jelas bentuknya, sehingga mereka menjadi liminal.

“Koreografer muda Sumbar mesti banyak belajar ke sumber tari Minangkabau, yaitu pencak silat dan pamenan, yang orang akademis menyebutnya tari tradisi. Jadi, selain para koreografer muda itu belajar bagaimana mencipta koreografi baru berdasarkan ilmu-ilmu koreografi yang datang dari Barat, mereka pun semestinya memberi perhatian yang seimbang kepada asas tari Minangkabau, yaitu pancak dan pamenan. Kalaulah sudah berlaku usaha yang seimbang itu, maka saya percaya mereka akan menghasilkan karya-karya koreografi Minangkabau modern yang bisa menjadi satu alternatif keberadaan tari di dunia,” ungkapnya.

Ia memaparkan perjalanan kreatif peneguh tari Minangkabau (Redefining Minangkabau Dance), Hoerijah Adam (1934-1971) dan koreografer yang berpikir lokal bertindak global, Gusmiati Suid (1942-2001). Bagi maestro tari Minangkabau ini, pancak dan pamenan menjadi panutan utama. Dalam masyarakat tradisi Minangkabau, posisi gerakan pamenan merujuk kepada asas yang ada pada pancak. Itulah sebabnya antara gerakan tari tradisi Minangkabau dengan pancak terlihat seperti dua saudara kandung yang sedarah. Melakukan pamenan yang berasaskan pancak selalu mengikut kepada struktur yang diatur sesuai prinsip ke-Esa-an dan sifat transenden Allah seperti yang dipahami dalam pancak.

Kedua koreografer legendaris itu sangat menekankan, bahwa penguasaan bentuk-bentuk tari tradisi sebagai vokabuler karya baru, semestinya diikuti dengan penguasaan pancak. Bahkan bagi Gusmiati Suid, pancak tidak hanya harus dilakukan secara teknikal, tetapi juga dipahami dalam konteks filosofinya.

“Semuanya tergantung kepada mereka, para koreografer muda ini. Kalau mereka maunya hanya popularitas instan, maka apa yang mereka lakukan sudah memadai,” kata anak Hoerijah Adam ini.

Mengunjungi pelosok nagari
Pria kelahiran Bonjol (6 Januari 1960) ini sangat bersyukur hidup di tengah keluarga yang menggeluti kesenian sebagai basis pembentukan karakter keluarga. Ayahnya, Boestanoel Arifin Adam, dikenal sebagai seniman musik lulusan Conservatoire Royal de Musique Gent Belgium, di Belgia, serta pernah menjadi Direktur ASKI Padangpanjang.

Proses kreatifnya di bidang seni dimulai dari kegiatan di sekolah dasar di Padangpanjang. Diakuinya, ia tidak pernah lupa dengan guru SD yang pertama kali mengajarnya menari, yaitu, Ibu Nursehan. Seterusnya, sewaktu sekolah di INS Kayutanam, ia dibina almarhum Wisran Hadi bermain teater dan Herisman Is dalam bidang musik. Nasib baik mempertemukannya dengan Gusmiati Suid sewaktu kuliah di ASKI Padangpanjang (sekarang ISI Padangpanjang). Ia pun dibina oleh Bu Yet (begitu Gusmiati Suid biasa disapa) hingga menjadi penari tetap Sanggar Gumarang Sakti di Batusangkar.

Salah satu yang disenangi dalam belajar seni tradisi adalah mengunjungi kampung-kampung atau pelosok nagari di Sumbar. Selain untuk melihat keindahan alam Minangkabau, ia sengaja mengunjungi kampung-kampung itu untuk belajar silat serta kesenian tradisional. Di antara gurunya dari kampung-kampung yang dikunjungi tersebut, almarhum Ahmad Sutan Radjo Angek di Pariangan dan almarhum Yahya Rasyid Malin Marendah di Koto Anau. Kedua seniman tradisi itu menjadi panutan baginya. Sayangnya, kedua guru itu tidak bisa melihat muridnya ini menjadi angku doktor.

“Saya bukan hanya mengunjungi seniman-seniman tradisi itu, tetapi belajar bertahun-tahun dengan mereka, terutama dengan almarhum Atuak Ahmad Sutan Radjo Angek di Pariangan dan dengan Mak Yahya Rasyid Malin Marendah di Kotoanau. Dari seniman-seniman tradisi itu saya mendapatkan nilai yang sarat dengan kehidupan orang Minangkabau dalam tari. Setiap pergerakan tari tradisi yang saya pelajari dari seniman-seniman tradisi itu memiliki nilai yang berkaitan dengan adat. Inilah yang tidak dilakukan oleh koreografer-koreografer muda saat sekarang sehingga saya mengatakan mereka berkarya tanpa panutan,” ungkapnya.

Indra Utama menikah dengan Ernida Kadir, yang juga dosen ISI Padangpanjang, dan sedang menyelesaikan program doktoral pula di Universiti Malaya. Mereka dikarunia dua orang anak, Rangga Cipta Permana, yang sedang kuliah di Jurusan Media Fakulti Sastera dan Sains Sosial, Universiti Malaya. Serta, Genta Iverstika Gempita, mahasiswa jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Unand.

Sebagai penari dan koreografer, ia telah mengikuti banyak pertunjukan di dalam dan luar negeri. Setidaknya, tercatat 21 koreografi yang dibuatnya sendiri hingga 2011, disamping garapan kolaborasi dengan koreografer lainnya. Kemudian, ia juga bergiat sebagai penata musik dan penata seni pertunjukan, termasuk menjadi pembicara atau pemakalah dalam seminar-seminar seni dan budaya.

“Prinsip hidup saya, belajar, belajar, dan belajar. Sampai sekarang pun saya masih belajar,” ujarnya mengakhiri pembicaraan di seberang sana. (***)
Baca Selengkapnya..

Kamis, 09 Februari 2012

Gunung Marapi masih semburkan abu Vulkanik



BATUSANGKAR, HALUAN — Gunung Marapi kembali menyemburkan abu vulkanik, Selasa (7/2).
Bahkan Minggu (5/2) lalu, ketinggian semburan abu men¬capai ratusan meter. Semburan abu itu terlihat jelas dari wilayah Nagari Tuo Pari¬angan.
Warga Jorong Sikaladi Nagari Pariangan, yang sedang meng¬ikuti acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, terkejut melihat semburan abu vulkanik tersebut.
Selang beberapa menit saja, gumpalan awan hitam yang membubung ke udara itu terlihat menyebar ke arah timur ditiup angin. Hujan abu akibat sem¬buran itu dirasakan warga yang bermukim di Jorong Guguak Pariangan.
“Untung saja sorenya hujan. Abu yang melekat pada daun tanaman sudah kembali bersih, sehingga tanaman seperti cabai, bawang dan kacang tanah akan tumbuh subur,” tutur seorang warga Guguak Malin Sutan.
Dari data yang diperoleh Haluan di Kantor BPBD Tanah Datar, semburan abu vulkanik sudah berlangsung sejak bulan Agustus tahun 2011 lalu. Sejak itu, hampir setiap hari, hingga saat ini, gunung itu masih menyemburkan debu.
Sementara status Marapi masih dalam level siaga. Warga selalu diharapkan waspada. Bila menunjukkan tanda-tanda mem¬bahayakan, sejumlah jalur eva¬kuasi bagi warga yang ber¬mukim pada radius 5 km di seputar lereng Marapi, juga sudah disi¬apkan.
“Aktivitas Marapi memang unik sekali bila dibandingkan dengan Gunung Merapi Jog¬yakarta. Marapi yang berada dalam dua wilayah, Tanah Datar dan Agam, ini cukup sulit dipre¬diksi,” tutur Kepala BPBD Tanah Datar Altri Suandi. (h/emz)
Baca Selengkapnya..

Pembagunan Jalan Tol SUMBAR dimulai 2014



Jalan tol Padang-Bukittinggi-Pekanbaru mulai dibangun tahun 2014. Pekerjaan berat yang harus diselesaikan segera adalah pembebasan lahan yang akan dilewati jalan bebas hambatan itu.
PADANG, HALUAN—Pem¬bangunan fisik jalan tol Padang-Bukittinggi-Pekanbaru sepanjang 242 km, disepakati bakal dimu¬lai awal 2014 mendatang. Pemprov Sumbar, DPRD Sumbar serta Pemko/Pemkab yang terkait dengan pembangunan jalan tol ini, sepakat akan membentuk Tim Kecil untuk melakukan kajian awal pelaksanaannya.
Tim ini juga akan menyusun rute yang akan dijadikan ruas jalan tol. Sebab jalan tol dapat saja melewati jalan nasional atau jalan provinsi yang telah ada, atau berlokasi di atas jalan yang telah ada. Atau bisa pula dengan membangun jalan baru serta melewati kawasan hutan.
“Kita harapkan tim kecil yang dipimpin Kepala Bappeda Rahmat Syahni ini secepatnya bekerja dan hasil kajian awalnya akan kita bawa dalam perte¬muan gubernur se-Sumatera di Palembang. Jadwalnya memang belum dipastikan, tetapi dalam waktu dekat ini,” ujar Gubernur Sumbar Irwan Prayitno kepada wartawan usai Rapat Koordinasi dengan DPRD Sumbar, pimpinan SKPD dan Bupati/Walikota terkait pembangunan ruas jalan tol Padang-Bukittinggi-Pekanbaru Senin (7/2) malam, di gubernuran Sumbar.
Pembangunan jalan tol ini meru¬pa¬kan program pemerintah pusat se¬lama kepemimpinan SBY dengan tar¬get 1.000 km. Dan Menteri BUMN sen¬diri juga menye¬butkan, Sumbar su¬dah sepantasnya memiliki jalan tol karena ruas jalan Padang-Bukittinggi sudah sangat padat.
Dari diskusi yang dipimpin Asis¬ten II Ekbang dan Kesra Syafrial, diha¬diri Walikota Paya-kumbuh Jos¬rizal, Walikota Padang Panjang Suir Syam, Bupati Padang Pariaman Ali Mukhni, Bupati Agam Indra Catri dan perwakilan dari Bukittinggi, Ta¬nah Datar dan Limapuluh Kota, me¬ngemuka bebe¬rapa pilihan alter¬natif rute jalan tol yang tak terlepas dari usulan agar daerahnya dilewati tol.
Yang pasti, alternatif yang memungkinkan itu diantaranya untuk tol Padang-Bukittinggi, dapat meng¬ikuti jalan kereta api yang sudah tidak dipakai, atau mening¬katkan status jalan Sicincin-Ma¬lalak, lalu dilanjutkan ke Balingka-Ngarai Sianok-Bukittinggi. Khusus di kawasan Bukit Apik yang rawan longsor, diatasi dengan jalan fly over.
Alternatif lainnya adalah dengan membangun jalan baru di sepanjang pinggir perbukitan dan kawasan hutan yang belum tersentuh pem¬bangunan. Selain itu, kemungkinan jalur tol di sepanjang pantai juga perlu dipertimbangkan karena ruas jalan tersebut juga sudah dimulai.
Tetapi menurut Kepala Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Pemukiman Sumbar, Suprapto, pembangunan jalan tol tidak perlu panjang-panjang, sebab sulit dalam pemeliharaannya. Biasanya tol itu cukup 3 km saja lalu disambung jalan negara atau jalan provinsi, lalu tol lagi dan begitu seterusnya.
Jalan Tol lewat Kawasan Hutan
Bupati Agam Indra Catri, sedi¬kit risau bila jalan tol dibangun pada kawasan yang banyak pemu¬kiman¬nya. Selain masalah pem¬bebasan lahannya yang sedikit sulit, juga dikhawatirkan dapat menim¬bulkan masalah sosial lainnya.
“Kami mohon dipertimbangkan tentang rute jalan tol ini, agar tidak dibangun di daerah yang sudah banyak pemukimannya. Berat masa¬lah lahannya,” katanya.
Menanggapi hal itu, Irwan men¬cari kemungkinan pem¬bangu¬nan tol melewati kawasan hutan. Menurut Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Hendri Octavia, untuk kepentingan umum maka pem¬bangunan jalan tol boleh melalui kawasan hutan.
Untuk ruas jalan Padang-Padang Panjang, ruas tol akan melalui hutan lindung dan juga hutan konversi.
Khusus hutan konversi harus dilakukan perubahan status lahan terlebih dahulu menjadi Area Peng¬gu¬naan Lain (APL). Sedangkan pada ruas Padang Panjang-Bukittinggi, tol akan melalui kawasan Gunung Marapi. Lalu ruas jalan Bukittinggi-Paya¬kumbuh, lebih banyak APL sehingga tidak ada masalah untuk pem¬bangunan tol.
Pada ruas jalan Limapuluh Kota-Pekanbaru, jalan tol lebih banyak melewati hutan lindung. Proses pengurusannya perubahan statusnya tidak sulit.
“Bagi kami yang penting segera tentukan trase jalan yang akan dilalui, kawasan hutan mana yang akan dilewati kemudian kami bisa ajukan permohonan perubahan status kawasan ke Menteri Kehu¬tanan,” kata Hendri.
Butuh lahan 1.210 Hektar
Menurut perencanaan Bappenas, pekerjaan fisik jalan tol Padang-Bukittinggi-Pekanbaru ini baru dimulai awal 2024. Tetapi kemudian disa¬rankan pada Bappe¬nas dan kemen¬trian terkait agar dapat dipercepat dan dimulai awal 2014.
Sebagai langkah awal proses percepatannya, kata Suprapto, perlu disosialisasikan pada masyarakat di daerah ini tentang pembangunan jalan tol. Dan pekerjaan paling berat adalah proses pembebasan lahannya. Pem¬bangunan tol memer¬lukan lahan 2x25 meter atau 50 meter sebagai lebar jalan dan panjang jalan tol yang mencapai 242 km. Sehingga total lahan yang harus dibebaskan 1.210 hektar.
Pada 2013, juga sudah diagen¬dakan pembuatan Feasibility Study (FS), Detail Enginering Desaign (DED) serta Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).
Sementara Kepala Dinas Perhu¬bungan dan Kominfo Sumbar, Akmal menyebutkan, volume lalu lintas saat ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan dibanding kondisi lalu lintas pada 2009. Dan pening¬ka¬tan volume kendaraan itu belum se¬ban¬ding dengan pelebaran jalan yang ada. Hal ini dapat dirasakan dengan lamanya waktu perjalanan dari Padang-Bukittinggi dan seba¬liknya.
“Pada 2009, data survei volume lalu lintas terklasifikasi untuk padang-Lubuk Alung 19.104 ken¬daraan satuan muatan penumpang (smp), Padang Panjang-Bukittinggi 14.563 smp, Bukittinggi-Paya¬kumbuh 10.888 smp dan Paya¬kumbuh-Pangkalan 4.199 smp. Sedangkan saat ini volume kenda¬raan Padang-Pekanbaru diper¬kirakan sudah mencapai 33.000 smp/hari,” terang Akmal. (h/vie)
Baca Selengkapnya..

Selasa, 07 Februari 2012

Rumah Porak poranda dilanda puting beliung

BATUSANGKAR,HALUAN — Bencana angin puting beliung melanda pemukiman warga di wilayah Nagari Cubadak Keca¬matan Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar.Menjelang Magrib Senin 6/1 kemarin, sebanyak empat buah rumah warga men¬jadi porak poranda disapu angin bercampur badai.
Akibatnya masyarakat yang tengah berada di dalam rumah menjadi terkejut. Hembusan angin secara tiba-tiba meng¬guncang bagian atap, yang menga¬kibatkan kerangka atap menge¬lupas, seisi rumah menjadi kehujanan.
Rumah warga yang disapu angin puting beliung tersebut terdapat di wilayah Jorong Supanjang. Sekitar 10 menit setelah angin gila itu mem¬porakporandakan bangunan rumah , warga setempat secara spontan berkerumun di lokasi rumah yang terkena musibah.
Bangunan warga yang terparah dilanda sapuan angin itu adalah kediaman milik Fitra Wati di Jorong Supanjang, kerangka atap terbalik disapu angin, sehingga seisi rumah menjadi basak kuyup kehujanan, sementara peralatan serta mobiler yang ada masih dapat dipakai dan tidak ada korban jiwa.
Berikutnya rumah hunian Syamsinar, suku Lubuak Batang yang tinggal dalam sebuah rumah permanen bersama empat orang anaknya, sementara atap rumah sebanyak lima helai atap telah diterbangkan angin sejauh 10 meter.
Nawawi (70) juga rumahnya disapu angin gila yang datang secara tiba-tiba, semua anggota keluarganya sempat terperanjat, karena dalam waktu tidak lebih dari 10 menit setelah hujan turun, sekitar lima helai atapnya menjadi bolong.
Begitu juga seorang warga Supanjang nama Nurmainis yang tinggal bersama empat anaknya, kini dalam keadaan kedinginan, karena sejumlah atap rumah telah diterbangkan angin, kontan saja hujan dengan leluasa masuk ke dalam rumahnya.
Bainar yang juga warga Jorong Supanjang Nagari Cubadak, juga mengalami hal yang sama, kerusakan terparah terdapat pada bagian atap rumah telah porakporanda diterbangkan angin limbubu yang secara sekejap merusak bangu¬nan di wilayah Nagari Cubadak itu.
Anggota Pusdalops yang tengah piket begitu mendapat laporan dari masyarakat, langsung diperintahkan oleh Kepala BPBD Tanah Datar untuk meluncur ke TKP dan langsung melakukan pendatan sejumlah rumah yang rusak.
Zulkifli seorang tokoh masyarakat Nagari Cubadak kepada Haluan di lokasi kejadian menyebutkan, bahwa selain merusak bangu¬nan pemukiman warga, angin putting beliung juga telah membabat sejumlah tanaman masyarakat, seperti cabe dan padi yang tengah menguning di sawah.
Sekretaris Nagari Cubadak M.Yunir kepada Haluan di lokasi bencana tersebut kemarin malam menyebutkan, pihaknya tengah menata sejumlah rumah warga yang dilanda angin limbubu tersebut dan selanjutnya akan dilaporkan ker pihak Pemkab Tanah Datar secepatnya. (jn)
Baca Selengkapnya..

Senin, 06 Februari 2012

Memperingati Maulid Nabi Muhammmad SAW 1433, IKS Jabodetabek sekaligus mengadakan Arisan Bulanan








Jakarta. Dalam rangka memperingati hari Mulid Nabi Muhammad SAW 1433 H, maka Ikatan Keluarga Saruaso yang berada di perantauan terutama yang berdomosili di Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi. Bahkan ada yang berdomosili di Bandung dan juga Indramayu, bahkan dari Cirebon juga hadir pada kesempatan itu, yaitu hari Minggu tanggal 5 Februari 2012, yang bertempat dirumah salah seoarang perantau Saruaso yang telah lama menetap di Jakarta yatu di Rumah Ibu Hj Chanidar karim ujuang tanah koto tuo, beralamat di Perumahan Kavling Marinir Pondok kelapa kali malang Jakarta Timur.

Acara memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1433 H ini, berlansung dengan baik yang diawali dengan pengajian yang disampaikan oleh salah seorang udztad yang biasa memberikan paengajian pada masjid Baiturrahmah yang berada di komplek perumahan tersebut.

Kegiatan ini diikuti oleh para perantau warga Saruaso beserta keluarga, memang namanya di rantau orang kehidupan itu sudah bercampur, ada yang suaminya orang Saruaso, tapi istri orang daerah lain, begitu juga sebaliknya. Kalau kita lihat-lihat sungguh beraneka ragam kehidupan kita diperantauan ini, dengan kegiatan dan acara inilah kita pupuk persaudaraan dan dan kira tingkatkan tali silaturrahmi diantara dunsanak-dunsanak kita yang berasal dari nagari Saruaso di perantauan.(jn)
Baca Selengkapnya..

Jatuh Bangun Mengarungi Jalanan Lembah Anai


Pragede jaguang
angek-angek
Yo pragede-pragede
Pragede

Kalimat di atas sudah tak asing lagi bagi penumpang bus yang melintasi kawasan Lembah Anai atau yang disebut juga Silaiang. Entah sejak kapan mulainya, pergedel jagung menjadi makanan khas Padangpanjang.
Makanan itu dijajakan oleh penjual yang sering disebut anak pragede di kawasan Silaiang. Mereka menamakan dirinya Anggota Pragede Pinukuik Silaiang Padang Panjang (Apper). Seperti apa perjuangan mereka mengarungi jalanan Silaiang untuk menyambung hidup dan menjaga eksistensi pragede jaguang dan pinukuik itu?

Seperti biasa, Lembah Anai selalu menghadirkan suasana sejuk bagi pengguna jalan yang melintas. Biasanya, jika kita datang dari arah Padang, maka begitu lepas dari gerbang Malibo Anai, suasana sejuk akan langsung terasa.
Tak lama setelah memasuki jalan menurun dan menikung kita akan menemui kumpulan monyet yang selalu menghibur dan mengharapkan makanan dari pengguna jalan. Begitu juga ketika Padang Ekspres melintasinya, Jumat (3/2) lalu.

Ketika melintasi tanda perbatasan Padangpariaman dengan Kabupaten Tanahdatar, di tepian jalan sebelah kiri kita akan menemukan sebuah pondok di tepi sungai dekat jembatan. Pondok itu bertuliskan “Pangkalan Pergedel”, di belakangnya terdapat sebuah mushalla kecil dan jalan setapak menuju sungai.

Jika kita pernah menaiki angkutan umum, seperti bus antar kota yang melintasi kawasan tersebut, maka pasti pernah berhenti di Pangkalan Pergedel itu. Tak lama setelah bus berhenti, maka anak pragede akan menghampiri bus dan menawarkan kepada penumpang untuk membeli pergedel, pinukuik, mau pun air mineral ukuran gelas.

Biasanya supir dan beberapa penumpang akan turun dari mobil. Ada yang sekedar menghabiskan rokok sebatang, buang air kecil ke tempat sederhana di tepi sungai yang telah disediakan Apper, bahkan sekedar bercengkerama atau bercanda dengan anak pragede yang sudah akrab dengan mereka.

Efendi, 36, Koordinator Lapangan Apper menjelaskan, keanggotaannya berjumlah 100 orang lebih. Namun, tidak semuanya aktif di lapangan, setiap harinya yang turun ke jalan hanya sekitar 50-60 orang. Kadang ada anggota Apper ada yang pergi merantau atau mencoba pekerjaan lain. Namun, ujung-ujungnya balik lagi menjajakan pergedel di Lembah Anai.

Di Pangkalan Pergedel Silaiang itu, jumlah pedagang tiap harinya sekitar 25 orang. Sisanya berjualan di Kota Padangpanjang, yaitu di simpang terminal untuk menunggu bus dari arah Bukittinggi, kemudian di Simpang Delapan untuk menunggu bus dari arah Batusangkar.

Dia mengisahkan, saat ini sistem berjualan anak pragede Silaiang sudah terbilang tertib dan tidak mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Ini tak terlepas bergantinya era bus besar menjadi bus kecil. “Sekarang kami cukup menunggu bus berhenti dan menawarkan dagangan kami secara bergiliran. Masing-masing pedagang sudah tahu gilirannya,” beber pria asal Padangpanjang ini.

“Dulu kami harus turun naik dari satu bus ke bus lainnya. Kesannya kehidupan kami terlalu keras. Kadang harus meloncat ke atas bus yang sedang berjalan. Lalu turun dengan cara yang sama. Tidak jarang kami mengalami kecelakaan, terjatuh dari bus yang masih melaju. Akhirnya, barang dagangan berserakan, dan badan pun lecet-lecet,” ujar bapak dua anak ini mengenang kerasnya kehidupannya tempo dulu.

Kata Efendi, ketika masih naik turun di Silaiang. Dulu anak pragede naik di tikungan dekat air terjun. Kemudian mereka turun di pendakian Singgalang Kariang. Kedua tempat itu menjadi pilihan karena berada di tikungan, sehingga memudahkan mereka untuk naik dan turun.

Biasanya, yang membuat mereka jatuh adalah sandal yang putus, atau ada yang tersangkut di pintu mobil. “Kalau jatuh, sakit rasanya. Mungkin sakit badan tidak seberapa, namun kesal di hati ini, apalagi ketika hari hujan. Dagangan masih banyak, ternyata semuanya terserak di jalan. Tidak ada yang menolong, mobil bus pun hanya berlalu begitu saja,” katanya.

Hal serupa dialami Yonasrizal, 35, pedagang lainnya. Pria asal Pesisir Selatan ini menceritakan, ketika belum memiliki pondok seperti sekarang dan bus yang lewat didominasi bus besar, mereka harus duduk di tepi jalan menenteng kantong berisikan pragede dan air mineral.

Apabila hujan, mereka hanya bisa berteduh seadanya. Naik ke bus pun berebutan. Katanya, dia sudah berjualan pragede sekitar 20 tahun lamanya. “Saat itu saya menganggur dan diajak teman main ke Padangpanjang. Saya kemudian tahu ada kegiatan menjual pergedel ini dan mencobanya. Ternyata inilah jalan hidup saya,” kata pria berbadan tegap ini.

Lain lagi dengan Tajin, 31, dia berjualan pragede sejak tahun 1991. katanya, ketika itu sebenarnya dia berjualan telur asin bersama etek-nya. Karena sering main dan bertemu dengan anak pragede, akhirnya dia pun memilih menekuni profesi ini. “Kalau saya sudah berjualan sejak jaman bus Bintang Kejora masih jaya-jayanya. Tidak jarang juga kami bersama-sama membantu ketika ada kecelakaan. Mulai menolong korban hingga membantu polisi mengatasi kemacetan,” ujar pria asal Kayutanam ini, antusias.

Kini, semenjak mempunyai pondok, dan bus yang melintas ukurannya kecil-kecil. Anak pragede tidak perlu lagi naik turun bus dengan meloncat. Mereka juga tidak perlu hujan-hujanan dan berebut untuk berjualan. Adanya pondok ini juga membuat anak pragede lebih solid dan kompak. Mereka mempunyai iuran wajib yang duitnya dipakai untuk membantu rekan yang sakit atau istri dan anaknya sakit.

Pergedel dan pinukuik mereka dapatkan di Padangpanjang dengan sistem ambil barang dulu, lalu dibayar sesuai yang habis terjual. Selain itu, dari pembuat pergedel, mereka mendapatkan uang makan ala kadarnya. Jika pergedel tak habis, maka akan dikembalikan pada induk semang-nya.

Mereka mengaku, dengan berjualan pergedel mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari serta membiayai anak dan istri. Biasanya, mereka hanya terbentur jika memerlukan uang lebih dari kebutuhan. Untuk mengatasinya, mereka biasanya bisa meminjam dari induk semang.

Banyak juga pemuda yang berjualan pergedel sambil sekolah atau kuliah. Banyak juga di antaranya yang hidupnya sudah berubah dan menjadi orang kantoran atau prajurit TNI dan Polri. “Kadang kehadiran kawan-kawan yang sudah berhasil menjadi hiburan tersendiri bagi kami. Bahagia rasanya mereka datang dan bernostalgia di sini,” ujar salah seorang anak pragede lainnya. (***)
Baca Selengkapnya..